Hendra Guru Kimia

Sekolah Online Belajar KimiA

Bunga Matahari Terakhir

Bunga Matahari terakhir

Cerpen Karya: I Putu Hendra Budi (@Hendranovelis)

Mentari menampakkan sinarnya, menyapa kehidupan di kota Palu. Cahayanya menusuk masuk ke dalam mataku seakan membangunkanku dari mimpi indahku. Sudah beberapa hari ini aku terus bermimpi aneh. Sesosok Pangeran selalu hadir dalam mimpiku namun aku tak pernah melihat jelas raut wajahnya. Sejak mimpi yang pertama, aku selalu mengharapkan sesosok Pangeran tampan akan datang menemuiku dan menjadi pelebur laraku. Ah sudahlah…

Namaku Sita, aku masih duduk di kelas XI IPA di Sman 3 Palu. Aku berjalan masuk ke dalam sekolah diantara bunga-bunga yang tertata indah. Namun tiba-tiba,

“Hai, Ta” Abi memanggilku dari arah belakang. Abi adalah teman sekelasku yang paling menyebalkan. Sudah berulang kali aku mengatakan kalau aku tak suka melihatnya namun dia tetap saja tak mau pergi. Untuk yang kesekian kalinya,

“Bi, aku gak suka sama kamu dan kamu gak usah deketin aku lagi!” bentakku padanya. Namun dengan raut wajah mengiba dia berkata,

“Cuma mau ngasih kamu ini kok” dia memberikan setangkai bunga matahari. Entah apa maksudnya, selalu saja bunga matahari.

Seperti biasa aku mengambil bunga itu dan membuangnya di tong sampah sambil melangkah meninggalkannya. Aku tidak perduli dengan perasaannya. Aku sudah muak dengan tingkah lakunya yang keras kepala dan selalu menggangguku. Kemudian berlanjut ketika bel pulang berbunyi. Ketika aku ingin meninggalkan kelas, tiba-tiba Abi datang menghampiriku.

“Ta, hati-hati di jalan ya” sambil memberikan setangkai bunga Matahari. Ia selalu mengulang hal yang sama setiap harinya dengan setangkai bunga yang sama pula. Aku tak mengerti mengapa ia tak pernah bosan melakukan itu. Namun, seperti biasanya aku mengambil bunga itu dan membuangnya di tong sampah.

Dalam perjalanan pulang aku selalu membayangkan pangeran impianku. Namun aku tak memperhatikan lampu merah dan tiba-tiba saja sebuah mobil menabrakku dari arah kanan. Selanjutnya aku tidak ingat apa-apa. Saat terbangun, aku sudah ada di rumah sakit. Semuanya terasa gelap dan tak merasakan apa-apa. Namun seorang yang mengaku suster berkata kepadaku yang membuatku bisu.

“Jangan banyak gerak dulu dik. Kamu masih harus banyak istrahat. Untuk saat ini matamu belum bisa melihat dulu dan kakimu masih belum bisa digunakan berjalan”

Aku sungguh tidak percaya. Dadaku terasa sesak seakan terikat oleh kemustahilan ini. bagaimana mungkin aku, oh Tuhan. Sepanjang hari aku menangis membayangkan keadaanku saat ini. Aku takut, kegelapan ini seakan ingin membunuhku perlahan-lahan. Dalam kalutku tiba-tiba saja,

“Dik Sita, ini ada teman kamu yang menjenguk” kata suster yang merawatku lalu terdengar langkahnya menjauh dari tempat tidurku.

“Hai Ta, aku minta maaf. Aku Andi, orang yang menabrakmu saat itu. Maafkan aku. Aku berjanji akan menemani kamu sampai kamu sembuh total” sebuah suara ku dengar dari balik pintu.

Aku ingin marah kepadanya, namun aku paham semua itu sudah takdir. Tidak ada seorang pun yang ingin mengalami kejadian seperti ini. Selain itu, rasa tanggung jawabnya meluluhkan hatiku. Aku pun memanggilnya untuk mendekat. Sepanjang hari itu aku serasa seperti seorang putri. Dia selalu mampu membuatku tertawa, aku merasa dia adalah pangeran yang aku impikan itu. Aku ingin segera bisa melihat wajahnya, Tuhan aku ingin segera melihat lagi.

Hari-hari berikutnya dia terus menemaniku. Namun bedanya sekarang dia tak suka berbicara. Bagiku, dia selalu ada disampingku itu sudah cukup. Aku tidak sabar ingin melihat wajahnya. Semakin hari keadaanku semakin membaik. Latihan berjalan yang ku lakukan membuahkan hasil. Orang tuaku turut senang melihat perkembanganku.

Seminggu kemudian merupakan hari bersejarah dalam hidupku. Akhirnya setelah sekian lama, aku bisa melihat cahaya matahari yang sangat menyilaukan. Aku bisa melihat lagi. Melihat wajah orang tuaku yang sangat bahagia dan suster yang selama ini merawatku. Namun aku tak melihat seorang laki-laki berada dalam ruangan itu. Aku bertanya kepada ibu tentang Andi, seorang cowok yang selama ini menemaniku.

Ayah memberikanku sebuah kotak kecil dan mulai bercerita. Orang yang memberikan kotak ini adalah orang yang selama ini menemaniku. Setelah menjengukku, Andi tak pernah terlihat lagi. Suara ayah bergetar seakan ingin menangis. Aku heran ada apa sebenarnya. Mengapa ayah terlihat begitu sedih. Dengan tergesa-gesa aku membuka kotak itu. Aku menemukan setangkai bunga matahari dan secarik kertas.

Dear Sita…

Aku sangat bahagia saat ini karena bisa menemanimu sepanjang hari. Aku memang tak pantas memilikimu. Aku bukanlah pangeran impian yang selalu kamu ceritakan kepada teman-temanmu. Aku sedih karena kamu selalu menolak hadiah yang ku berikan. Sita yang ku sayangi, maafkan aku karena hanya ini yang bisa aku berikan. Aku harap kamu mau menerimanya.

Aku selalu ingin melewati hari bersama-sama denganmu dan melihat indahnya sang mentari bersamamu. Aku sadar itu tak akan pernah terjadi. Aku sedih saat dokter berkata kamu tidak akan bisa melihat lagi. Karena itulah ku berikan mataku agar kamu dapat melihat bagaimana cinta menjagamu. Sita yang ku cinta, saat kamu melihat bunga matahari terakhir ini, kamu tidak akan melihatku lagi. Aku pun tak mau selalu merusak hari-hari indahmu. Terima kasih telah membiarkanku ada di dekatmu sepanjang hari.

~ Abi ~ “

Air mataku menetes membasahi bunga matahari ini. Dengan matanya, kini aku memahami arti cahaya yang pernah menghilang dari hidupku. Aku terlambat menyadarinya. Ku peluk hadiah terakhir darinya. Hadiah yang tak pernah aku hargai selama ini. Kini aku telah kehilangannya, pangeran yang sebenarnya telah ku temukan sejak lama. Maafkan aku Abi.

END

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s